Gelar Dicabut CAF, Senegal Tetap Bersikeras Arak Trofi Piala Afrika 2025

Stefanos Nugraha
3 Min Read

Keputusan kontroversial CAF yang mencabut gelar juara Timnas Senegal di Piala Afrika 2025 ternyata tidak membuat mereka mundur. Senegal justru tetap berencana mengarak trofi tersebut dalam agenda resmi mereka di Prancis, sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan yang dianggap tidak adil.

Senegal Tolak Putusan dan Siap Melawan

Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) menunjukkan sikap tegas dengan tetap memasukkan parade trofi dalam agenda jelang laga uji coba di Stade de France. Langkah ini menjadi simbol perlawanan terhadap keputusan CAF yang menganulir kemenangan mereka.

Presiden FSF, Abdoulaye Fall, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan menerima keputusan tersebut begitu saja. Ia bahkan menyebut kasus ini sebagai bentuk ketidakadilan besar dalam dunia olahraga.

Awal Mula Kontroversi Final

Kontroversi bermula dari laga final yang mempertemukan Senegal melawan Timnas Maroko di Rabat. Senegal sebenarnya keluar sebagai pemenang setelah mencetak gol di babak perpanjangan waktu.

Namun, situasi berubah saat pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan pada momen krusial setelah wasit memberikan penalti kepada Maroko. Insiden ini kemudian menjadi dasar protes dari pihak lawan.

Maroko Ajukan Banding, CAF Ubah Keputusan

Federasi sepak bola Maroko langsung mengajukan keberatan atas insiden tersebut. Awalnya, sanksi yang diberikan hanya bersifat administratif tanpa mengubah hasil pertandingan.

Namun, melalui Komite Banding, CAF akhirnya membalikkan keputusan. Senegal dinyatakan melanggar regulasi karena meninggalkan lapangan sebelum laga usai, sehingga hasil pertandingan diubah menjadi kemenangan 3-0 untuk Maroko.

Sengketa Berlanjut ke CAS

Tidak terima dengan keputusan tersebut, Senegal membawa kasus ini ke Court of Arbitration for Sport (CAS). Proses hukum kini tengah berjalan dan diharapkan dapat memberikan keputusan final dalam waktu dekat.

Tim hukum Senegal bahkan menyebut keputusan CAF sebagai sesuatu yang tidak rasional dan berpotensi menjadi preseden buruk dalam dunia sepak bola.

Polemik yang Belum Usai

Meski CAF sempat mengumumkan Maroko sebagai juara, polemik belum berakhir. Senegal tetap mengklaim diri sebagai pemenang sah dan menolak menyerahkan trofi.

Situasi ini membuat status juara Piala Afrika 2025 masih menjadi perdebatan, sekaligus menciptakan salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah sepak bola Afrika.

Kasus pencabutan gelar Senegal membuka babak baru dalam konflik sepak bola internasional. Dengan proses hukum yang masih berjalan dan sikap keras dari kedua pihak, keputusan akhir akan sangat menentukan arah masa depan kompetisi dan regulasi di level global.

Share This Article