Sepak bola sering kali tidak mengenal ampun. Dalam satu detik, Anda bisa menjadi pahlawan; di detik berikutnya, Anda adalah musuh nomor satu. Namun, jarang sekali ada kisah di mana seorang pemain yang sudah “mati” secara karier di sebuah klub, mampu bangkit dari abu kegagalan untuk menulis ulang warisannya.

Inilah kisah The Redemption of Granit Xhaka, sebuah narasi tentang ketabahan, kesehatan mental, dan pembuktian bahwa cinta kedua itu nyata.
Menit ke-61: Titik Nadir di Emirates Stadium
Oktober 2019 adalah bulan tergelap dalam karier Xhaka. Saat papan pergantian pemain menunjukkan nomor 34 dalam laga melawan Crystal Palace, Emirates Stadium meledak—bukan dengan sorakan, melainkan dengan ejekan (booing) yang memekakkan telinga ditujukan kepada kapten mereka sendiri.
Xhaka, yang merasa dikhianati oleh pendukungnya sendiri di tengah tekanan mental yang hebat, bereaksi secara manusiawi namun fatal bagi kariernya saat itu: ia menyuruh fans untuk “pergi” dengan kata-kata kasar, menangkupkan telinga, dan melepas jersei Arsenal sebelum masuk ke lorong pemain.
Pada titik itu, konsensusnya jelas: Karier Xhaka di Arsenal sudah berakhir. Ban kapten dicopot oleh Unai Emery, dan ia diasingkan dari skuad.
Sentuhan Tangan Mikel Arteta


Ketika Mikel Arteta tiba pada Desember 2019, koper Xhaka sebenarnya sudah dikemas. Hertha Berlin sudah menunggu. Namun, Arteta melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain—seorang pemimpin yang terluka.
Arteta meyakinkan Xhaka untuk bertahan, setidaknya untuk membuktikan bahwa dia tidak pantas pergi dengan cara seperti itu. Xhaka setuju, namun jalan menuju penebusan tidaklah instan. Ia harus melewati musim-musim penuh kartu merah dan kritik tajam sebelum akhirnya menemukan peran yang mengubah segalanya.
Evolusi Taktik: Menjadi Sang ‘Nomor 8’
Selama bertahun-tahun, Xhaka dikritik karena lambat dan sering melakukan blunder defensif. Namun, pada musim 2022/2023, Arteta melakukan transformasi taktis jenius. Ia mendorong Xhaka lebih ke depan sebagai advanced eight.
Bebannya untuk menjadi pelapis terakhir pertahanan dikurangi, memberinya kebebasan untuk:
-
Muncul di kotak penalti lawan.
-
Memberikan assist kunci.
-
Menjadi pemimpin mental bagi skuad muda seperti Bukayo Saka dan Martin Odegaard
Tiba-tiba, Xhaka bukan lagi “beban”, melainkan mesin yang menggerakkan lini tengah Arsenal menuju perburuan gelar juara.
Dari Cemoohan Menjadi Nyanyian
Momen paling emosional dari redemption ini bukanlah trofi, melainkan suara dari tribun. Fans yang dulu meneriakinya, kini menyanyikan namanya: “We’ve got Granit Xhaka…”
Xhaka membalas kebencian dengan profesionalisme yang luar biasa. Ia tidak menyimpan dendam; ia justru bekerja lebih keras. Puncak dari narasi ini terjadi di laga terakhirnya bersama Arsenal melawan Wolverhampton. Xhaka mencetak dua gol, dan saat ia ditarik keluar, seluruh stadion berdiri memberikan standing ovation.
Ia pergi bukan sebagai pengkhianat yang diusir, melainkan sebagai pahlawan yang memilih untuk mencari tantangan baru (ke Bayer Leverkusen) setelah menyelesaikan tugasnya mengembalikan Arsenal ke Liga Champions.
Mengapa Kisah Ini Penting?


Kisah Granit Xhaka adalah pengingat bagi dunia sepak bola modern yang sering kali terlalu reaktif. Di era media sosial di mana pemain dihujat habis-habisan setelah satu kesalahan, Xhaka menunjukkan bahwa:
-
Karakter diuji dalam kesulitan, bukan saat berjaya.
-
Kesehatan mental atlet adalah faktor nyata yang sering diabaikan fans.
-
Kesempatan kedua bisa membuahkan hasil luar biasa jika dibarengi dengan kerja keras dan dukungan pelatih yang tepat.

Granit Xhaka meninggalkan Arsenal dengan kepala tegak. Ia membuktikan bahwa tidak peduli seberapa dalam Anda jatuh, Anda selalu punya kesempatan untuk menulis ulang akhir cerita Anda. Dari “musuh publik” menjadi salah satu pemain paling dicintai di era Emirates, The Redemption of Granit Xhaka akan selalu dikenang sebagai salah satu comeback mentalitas terbesar dalam sejarah Premier League.
