Ray Parlour: Si “Pele dari Romford” yang Jauh Lebih Jago dari Kelihatannya

Sophia Rahma
4 Min Read

Kalau kita ngomongin Arsenal era The Invincibles atau tim Double Winner 1998, nama yang muncul di kepala pasti nggak jauh-jauh dari Thierry Henry yang larinya kayak kijang, Dennis Bergkamp yang sentuhannya kayak penyihir, atau Patrick Vieira yang galak banget di tengah.

Tapi, ada satu nama yang mungkin nggak punya skill individu se-estetik mereka, tapi kalau dia nggak main, Arsenal bisa oleng. Namanya Ray Parlour, atau yang akrab dipanggil fans dengan julukan kocak: “The Romford Pele”.

Kenapa Sih Dipanggil “The Romford Pele”?


Julukan ini sebenarnya agak bernada bercanda (ironic nickname). Romford itu daerah pinggiran London yang “merakyat” banget, jauh dari kesan glamor. Membandingkan Ray yang gayanya lugu dan pekerja keras dengan Pele—sang raja sepak bola Brasil—adalah bentuk humor khas fans Arsenal.
Tapi jangan salah, julukan itu lama-lama jadi bentuk respek. Karena meski gayanya nggak “Brasil” banget, kontribusi Ray buat tim itu beneran sekelas pemain bintang.

“Napas Tua” yang Nggak Habis-Habis

Ray Parlour itu ibarat mesin diesel. Dia bukan tipe pemain yang bakal pamer step-over atau gocekan maut, tapi dia adalah pemain yang bakal ngejar bola sampai ke ujung lapangan di menit ke-90 pas pemain lain sudah pada sesak napas.
Di musim 1998 saat Arsenal juara Liga Inggris dan FA Cup, Ray adalah penyeimbang. Saat Vieira maju menyerang atau Emmanuel Petit sibuk ngatur ritme, Ray-lah yang lari ke sana kemari nutup lubang. Dia punya stamina yang nggak masuk akal. Tanpa kerja keras dia di sisi kanan atau tengah, bintang-bintang Arsenal lainnya nggak bakal punya kebebasan buat pamer skill.

Spesialis Gol “Gila” di Momen Penting

Salah satu alasan kenapa Ray itu underrated adalah karena dia jarang cetak gol. Tapi sekalinya nyetak gol, biasanya momennya krusial banget atau prosesnya keren banget.
Masih ingat Final FA Cup 2002 lawan Chelsea? Waktu itu komentator TV, Tim Lovejoy (yang kebetulan fans Chelsea), sempat nyeletuk pas Ray bawa bola: “It’s only Ray Parlour…” (Ah, cuma Ray Parlour doang kok…).
Detik berikutnya? Ray nendang bola dari jarak jauh yang melengkung indah masuk ke pojok gawang Chelsea. BOOM! Arsenal juara, dan omongan komentator itu jadi bahan ejekan abadi sampai sekarang. Ray membuktikan kalau dia bukan cuma pelengkap, tapi big-game player.

Setia dan “Local Hero”

Di era sepak bola yang mulai dipenuhi pemain asing mahal, Ray Parlour adalah representasi bocah lokal. Dia lulusan akademi Arsenal, logatnya medok London, dan dia nggak pernah protes kalau harus duduk di bangku cadangan atau main di posisi mana pun yang diminta Arsene Wenger.
Dia adalah lem perekat di ruang ganti. Teman-temannya tahu, kalau situasi lagi tegang, Ray bakal ada di sana buat kasih kerja keras 110%.


Ray Parlour mungkin nggak punya patung di luar stadion Emirates kayak Henry atau Bergkamp. Tapi buat fans Arsenal yang nonton bola sejak tahun 90-an, mereka tahu kalau Ray adalah jantung dari kesuksesan klub.
Dia ngajarin kita kalau buat jadi legenda, kamu nggak harus selalu jadi yang paling keren di depan kamera. Kadang, jadi orang yang paling rajin lari dan paling setia sama tim sudah lebih dari cukup.

Respect, The Romford Pele!

Share This Article