“Trust the Process”: Perjalanan Berdarah Mikel Arteta dan Puncak Penantian di 2026

Sophia Rahma
3 Min Read

Desember 2019, Mikel Arteta berjalan memasuki Emirates Stadium bukan sebagai kapten, melainkan sebagai nakhoda yang mewarisi kapal karam. Saat itu, Arsenal adalah tim yang kehilangan identitas, terjebak di papan tengah, dan memiliki ruang ganti yang toksik. Kalimat “Trust the Process” muncul sebagai janji, namun bagi banyak orang, itu terdengar seperti alasan untuk kegagalan.

Kini, di tahun 2026, proses itu bukan lagi sekadar kata-kata. Ini telah menjadi sebuah dinasti yang sedang dibangun.

Fase 1: Pembersihan Radikal (2019 – 2021)

Arteta tidak memulai dengan taktik, melainkan dengan budaya. Ia menetapkan “Non-negotiables”. Pemain bintang dengan gaji selangit yang tidak sesuai dengan visinya didepak tanpa kompromi.

  • Momen Kunci: Juara FA Cup 2020 yang memberikan nafas buatan bagi proyek ini.

  • Titik Terendah: Finis di posisi ke-8 dua musim berturut-turut yang memicu tagar #ArtetaOut menggema di seluruh dunia.

Fase 2: Pembangunan Fondasi dan Identitas (2021 – 2023)

Arsenal mulai berinvestasi pada pemain muda: Martin Ødegaard, Bukayo Saka, dan Gabriel Martinelli menjadi wajah baru. Arteta mulai mengimplementasikan Juego de Posición yang ia pelajari dari Pep Guardiola, namun dengan sentuhan fisik khas Liga Inggris. Pada musim 2022/2023, Arsenal mengejutkan dunia dengan memimpin liga selama 248 hari, meski akhirnya harus tunduk pada kekuatan finansial dan mental Manchester City.

Fase 3: Evolusi Menjadi Raksasa (2024 – 2025)

Arsenal berhenti menjadi “tim yang hanya bermain indah” dan berubah menjadi “mesin pemenang yang efisien”. Kedatangan pemain seperti Declan Rice dan penguatan di sektor pertahanan membuat Arsenal memiliki rekor pertahanan terbaik di liga. Mereka tidak lagi takut bermain kasar di laga tandang dan menjadi raja bola mati (set-pieces).

2026: Apakah Ini Puncak Ceritanya?

Memasuki Mei 2026, narasi “percaya proses” telah mencapai titik didih. Berdasarkan data kompetisi musim 2025/2026, Arsenal berada di posisi pertama klasemen Premier League dengan rekor pertahanan yang hanya kebobolan 26 gol hingga pekan ke-35.

Mengapa 2026 dianggap sebagai “Endgame” Arteta?

  1. Kematangan Skuad: Pemain seperti Saka, Saliba, dan Ødegaard kini berada di usia emas mereka (24-27 tahun). Tidak ada lagi alasan “kurang pengalaman”.

  2. Kedalaman Takis: Arteta telah berevolusi dari sekadar “murid Pep” menjadi pelatih yang fleksibel. Arsenal 2026 bisa mendominasi penguasaan bola, namun juga sangat nyaman bertahan dalam blok rendah dan mematikan lewat serangan balik.

  3. Ambisi Eropa: Setelah mencapai final Liga Champions di musim ini, 2026 adalah pembuktian apakah proses ini bisa menghasilkan trofi paling bergengsi di tanah Eropa.

Perjalanan Arteta adalah pengingat bahwa di era sepak bola instan, kesabaran yang dibarengi dengan visi yang jelas akan membuahkan hasil. Jika 2026 berakhir dengan trofi Premier League atau Liga Champions di tangan, maka “Process” tersebut bukan lagi sekadar dipercayai, melainkan telah selesai dijalankan.

Share This Article