Kekalahan telak 0-3 yang dialami AC Milan saat menghadapi Udinese menunjukkan bahwa tim sedang kehilangan keseimbangan permainan. Perubahan taktik yang dilakukan Massimiliano Allegri dengan beralih ke formasi 4-3-3 justru memicu masalah baru, karena sistem tersebut tidak sesuai dengan karakter tim saat ini.
Formasi ini membuat jarak antarlini menjadi terlalu renggang, sehingga lini belakang mudah ditembus dan sering berada dalam tekanan. Koordinasi pertahanan terlihat lemah, terutama dalam proses terciptanya gol, yang menunjukkan kurangnya organisasi dan komunikasi antar pemain.
Di lini depan, performa Rafael Leao dan Christian Pulisic belum maksimal. Minimnya kreativitas serta penyelesaian akhir yang kurang tajam membuat tim kesulitan menciptakan peluang berbahaya sepanjang pertandingan.
Solusi yang paling memungkinkan adalah kembali ke formasi 3-5-2 yang sebelumnya mampu menjaga keseimbangan tim. Dengan sistem ini, pertahanan menjadi lebih solid, lini tengah lebih terorganisir, dan serangan bisa dibangun dengan lebih efektif.
Selain itu, peningkatan performa lini depan juga menjadi kunci. Memberikan kesempatan kepada pemain seperti Santiago Gimenez dapat membantu membuka ruang dan menambah variasi serangan.
Secara keseluruhan, AC Milan tidak memerlukan perubahan besar, melainkan penyesuaian kecil yang tepat. Jika keseimbangan tim bisa segera ditemukan kembali, peluang untuk finis di zona Liga Champions masih tetap terbuka.
