Kembalinya Elkan Baggott Tembok Tangguh Yang Sempat Hilang

Raj Pur
By
3 Min Read

Kembalinya Elkan Baggott ke Timnas Indonesia di era kepelatihan John Herdman bukan cuma soal “oh, bek tinggi balik lagi”—ini langsung jadi bahan debat panas yang lebih kompleks: apakah dia cocok dengan sistem Herdman atau justru bikin masalah baru?

Di bawah Herdman, semua orang tahu pendekatannya beda. Ini pelatih yang obsesif sama struktur, disiplin, dan kolektivitas. Lihat bagaimana dia membangun tim di Kanada—bukan sekadar kumpulin pemain berbakat, tapi bikin mereka jadi unit yang solid, bahkan bisa ngalahin tim yang di atas kertas lebih kuat.

Nah, di sinilah perdebatan mulai meledak.

Kubu pro langsung teriak:
“Baggott itu prototype bek Herdman banget! Tinggi, kuat, bisa duel, dan cocok buat sistem tiga bek atau blok rendah!”
Dan ini masuk akal. Dalam sistem Herdman yang sering mengandalkan transisi cepat dan pertahanan rapat, sosok seperti Baggott bisa jadi jangkar—terutama saat lawan mulai bombardir bola-bola atas.

Tapi kubu kontra nggak tinggal diam:
“Masalahnya bukan skill, tapi apakah dia bisa tunduk sama sistem?”

Ini inti masalahnya.

Herdman bukan pelatih yang kompromi soal komitmen. Lo nggak datang? Lo out. Lo nggak disiplin taktik? Lo out. Sesederhana itu. Jadi pertanyaannya sekarang bukan “seberapa bagus Baggott?”, tapi “apakah Baggott siap main dengan aturan ketat Herdman?”

Karena di era ini, satu pemain nggak bisa lebih besar dari sistem.

Kalau kita bicara realita skuad sekarang, lini belakang Indonesia mulai terbentuk dengan pemain-pemain yang lebih konsisten hadir dan paham pola permainan. Artinya, Baggott nggak lagi datang sebagai penyelamat—dia datang sebagai penantang.

Dan ini bikin situasi makin panas:

  • Kalau langsung jadi starter → publik bakal ribut soal “privilege”
  • Kalau jadi cadangan → muncul narasi “disia-siakan”
  • Kalau performnya biasa aja → kritik bakal dua kali lipat lebih keras

Di sisi lain, Herdman justru diuntungkan. Dia punya satu hal yang dulu sering jadi masalah: kedalaman skuad. Dengan Baggott masuk, opsi bertahan jadi lebih fleksibel—mau main agresif atau bertahan dalam, semua ada alatnya.

Tapi sekali lagi, semua balik ke satu hal: adaptasi.

Kalau Baggott bisa:

  • Tunduk ke sistem
  • Konsisten hadir
  • Main tanpa drama

Dia bukan cuma jadi bagian tim—dia bisa jadi pilar utama di era Herdman.

Tapi kalau tidak?
Herdman nggak akan ragu buat bilang: “Thank you, next.”

Karena di era ini, satu hal jelas:
Nama besar nggak ada artinya kalau nggak bisa kerja untuk tim.

Share This Article