Performa Liverpool FC dalam musim 2025/2026 mengalami penurunan drastis di bawah asuhan pelatih asal Belanda, Arne Slot. Setelah sukses besar di musim debut dengan gelar Premier League, kini The Reds justru terjebak dalam krisis performa yang memicu tekanan besar terhadap sang pelatih.
Dari Awal Menjanjikan ke Inkonsistensi
Liverpool sebenarnya memulai musim dengan cukup meyakinkan. Mereka sempat meraih delapan kemenangan dari sepuluh laga awal dan kembali difavoritkan dalam perburuan gelar. Namun, performa itu perlahan merosot drastis.
Dalam periode krusial, Liverpool mencatat sembilan kekalahan dari 12 pertandingan—catatan buruk yang jarang terjadi dalam sejarah klub. Inkonsistensi menjadi masalah utama, bahkan saat mereka sempat mencatat rekor tak terkalahkan, banyak hasil imbang yang menunjukkan adanya masalah mendasar dalam permainan tim.
Kekalahan Memalukan dan Krisis Mental
Kekalahan telak 0-4 dari Manchester City di FA Cup menjadi titik balik yang memperjelas krisis Liverpool. Slot sendiri mengakui timnya kehilangan “fighting spirit” dan mengalami keruntuhan mental dalam pertandingan tersebut.
Tak berhenti di situ, Liverpool kembali tampil buruk saat menghadapi Paris Saint-Germain di Liga Champions. Dalam kekalahan 0-2, mereka bahkan tidak mampu mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran dan hanya menguasai 28% bola—angka yang sangat kontras dengan identitas menyerang Liverpool selama era sebelumnya.
Kapten tim Virgil van Dijk bahkan menyebut musim ini sebagai “tidak dapat diterima”, mencerminkan betapa dalamnya kemunduran performa tim.

Masalah Taktik dan Kehilangan Identitas
Salah satu sorotan utama adalah perubahan pendekatan taktik Slot. Dalam laga melawan PSG, ia menggunakan formasi lima bek yang justru gagal total dan membuat tim terlihat bermain defensif ekstrem.
Slot sendiri mengakui bahwa timnya bermain dalam “mode bertahan” dan meninggalkan filosofi permainan menyerang yang sebelumnya menjadi ciri khasnya.
Masalah lain muncul di lini belakang yang rapuh. Liverpool kebobolan sembilan gol dalam empat laga tandang terakhir, menunjukkan lemahnya organisasi pertahanan dan disiplin tim.
Tekanan Besar dan Ancaman Pemecatan
Hasil buruk membuat posisi Slot semakin terancam. Liverpool kini berada di papan atas tetapi jauh dari persaingan gelar, bahkan terancam gagal lolos ke Liga Champions musim depan.
Tekanan juga datang dari media dan publik. Beberapa pihak menilai Slot mulai kehilangan ruang ganti, sementara spekulasi mengenai calon penggantinya mulai bermunculan.
Bahkan, laporan menyebut pemecatan Slot “hanya masalah waktu” jika tren negatif ini terus berlanjut.
Era Transisi yang Berat
Situasi Liverpool semakin kompleks dengan kepergian sejumlah pemain kunci seperti Mohamed Salah dan Andy Robertson di akhir musim, yang menandai berakhirnya era generasi emas klub.
Kombinasi faktor taktik, mental, dan transisi skuad membuat Liverpool terlihat kehilangan identitas yang sebelumnya dibangun di era Jürgen Klopp.
Kemunduran Liverpool di bawah Arne Slot bukan hanya soal hasil buruk, tetapi juga krisis identitas dan transisi tim. Dari juara liga menjadi tim yang inkonsisten dan rapuh, The Reds kini menghadapi persimpangan penting.
Jika tidak ada perubahan signifikan dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin era Arne Slot di Anfield akan berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan.
