Dunia sepak bola sering kali tidak mengenal kompromi, terutama di Santiago Bernabeu. Kylian Mbappe, yang datang dengan status “Galactico” pamungkas pada musim panas 2024, kini berada di titik persimpangan yang aneh. Secara statistik, ia tetaplah monster. Namun, memasuki April 2026, narasi mengenai “kegagalan” proyek Mbappe di Madrid mulai bergema kencang. Mengapa seorang pemain yang mencetak puluhan gol justru dianggap gagal?

1. Statistik yang Menipu: Tajam tapi Tak Menentukan
Hingga pertengahan April 2026, Mbappe sebenarnya mencatatkan angka yang impresif. Di La Liga musim 2025/2026, ia telah membukukan 23 gol. Di Liga Champions, ia bahkan mencetak 15 gol, salah satu catatan individu tertinggi dalam sejarah kompetisi tersebut.

Namun, kritik muncul karena distribusi gol tersebut. Publik Madrid merasa Mbappe sering kali “menghilang” di laga-laga krusial. Kekalahan agregat baru-baru ini dari Bayern Munchen di perempat final Liga Champions 2026 menjadi puncaknya. Meski Mbappe mencetak gol di leg kedua, ia dianggap gagal mengangkat tim saat Madrid sangat membutuhkan keajaiban, sesuatu yang biasanya dilakukan oleh pendahulunya, Cristiano Ronaldo atau Karim Benzema.
2. Masalah Taktis: Tabrakan Ego dan Posisi

Salah satu alasan utama label “gagal” ini adalah ketidakseimbangan taktis yang ia bawa. Mbappe secara alami lebih nyaman beroperasi dari sisi kiri—wilayah kekuasaan Vinicius Junior.
-
Ego Posisi: Penolakan Mbappe untuk sepenuhnya bertransformasi menjadi pemain nomor 9 (striker tengah) murni menciptakan kemacetan di lini serang.
-
Malas Bertahan: Statistik menunjukkan Mbappe memiliki kontribusi defensif yang sangat rendah. Di era sepak bola modern di mana pressing kolektif adalah kunci, keengganan Mbappe untuk mengejar bola sering membuat lini tengah Madrid terekspos.
-
Hilangnya Koneksi: Alih-alih menjadi pelayan bagi tim, strategi Madrid sering kali dipaksa menjadi “Mbappe-sentris,” yang justru mematikan kreativitas pemain lain seperti Jude Bellingham yang produktivitasnya menurun dibanding musim sebelumnya.
3. Bayang-bayang Trofi yang Menghilang

Di Real Madrid, kesuksesan tidak diukur dengan Pichichi (top skor), melainkan dengan trofi kolektif. Setelah memenangkan Liga Champions di musim sebelum Mbappe datang, Madrid justru mengalami paceklik gelar mayor dalam dua musim terakhir (2024/2025 dan sejauh ini di 2025/2026).
Label “gagal” melekat karena kedatangan Mbappe dianggap sebagai jaminan dominasi mutlak. Sebaliknya, Madrid justru terlihat lebih rapuh dan sulit mengalahkan tim-tim dengan organisasi pertahanan yang solid seperti Osasuna atau Atletico Madrid di kompetisi domestik.
4. Beban Finansial dan Ekspektasi Langit Ketujuh

Mbappe datang dengan status bebas transfer, namun dengan bonus penandatanganan dan gaji yang memecahkan rekor klub. Dengan investasi sebesar itu, penggemar mengharapkan lebih dari sekadar gol penalti atau gol melawan tim papan bawah.
Publik menuntut “Momen magis”—seperti tendangan voli Zidane atau sundulan Ramos di menit ke-92. Hingga saat ini, Mbappe belum memberikan momen ikonik yang membuatnya dicintai secara emosional oleh Madridista. Ia terlihat seperti tentara bayaran yang efisien, namun tanpa jiwa “Madridismo” yang diharapkan.
Kegagalan atau Sekadar Proses?

Menyebut Mbappe “gagal” secara total mungkin terlalu prematur jika hanya melihat angka di atas kertas. Namun, jika tolok ukurnya adalah keharmonisan tim dan prestasi kolektif, maka proyek ini memang sedang berada dalam lampu kuning.
Real Madrid bukan PSG di mana satu pemain bisa lebih besar dari klub. Di Madrid, jika kehadiranmu tidak memberikan trofi, setinggi apa pun statistikmu, sejarah hanya akan mencatatmu sebagai bagian dari era yang mengecewakan. Sisa musim 2026 akan menjadi penentu: apakah Mbappe akan bangkit membuktikan kritikus salah, atau ia akan benar-benar dikenang sebagai kegagalan paling mahal dalam sejarah Los Blancos.
