Legenda sepak bola Belanda, Ruud Gullit, melontarkan kritik tajam kepada Manchester United. Ia menilai klub berjuluk Setan Merah itu menghadapi masalah serupa dengan AC Milan, yakni terlalu bergantung pada kejayaan masa lalu sehingga menghambat perkembangan di era modern.
Terjebak romantisme sejarah
Menurut Gullit, baik Manchester United maupun AC Milan merupakan klub dengan sejarah luar biasa, terutama di kompetisi elite Eropa seperti Liga Champions. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, keduanya dinilai belum sepenuhnya kembali ke level terbaik.
Ia menegaskan bahwa terlalu sering melihat ke belakang justru membuat klub sulit melangkah maju. Gullit menyebut bahwa masa lalu adalah bagian dari sejarah, bukan fondasi utama untuk membangun masa depan.
Performa saat ini cukup menjanjikan

Secara performa, Manchester United sebenarnya berada dalam posisi yang cukup baik. Mereka kini bersaing di papan atas Liga Inggris dan berpeluang besar kembali tampil di Liga Champions musim depan.
Sementara itu, AC Milan juga menunjukkan konsistensi di kompetisi domestik dengan bersaing di papan atas Serie A, meski masih tertinggal dari Inter Milan yang memimpin klasemen.
Adaptasi jadi kunci kebangkitan
Gullit menekankan bahwa reputasi besar saja tidak cukup untuk bersaing di sepak bola modern. Klub harus berani beradaptasi, baik dari segi taktik, manajemen, maupun pengembangan pemain muda.
Ia menilai pendekatan baru dan keberanian dalam mengambil keputusan menjadi kunci untuk kembali bersaing di level tertinggi Eropa.
Eks pemain MU bersinar di Italia
Menariknya, sejumlah mantan pemain Manchester United justru menemukan kesuksesan di Italia. Nama-nama seperti Matteo Darmian dan Henrikh Mkhitaryan berpeluang meraih gelar bersama Inter Milan.
Selain itu, Scott McTominay sebelumnya juga sukses meraih trofi liga bersama Napoli. Hal ini menjadi bukti bahwa kualitas pemain bukan masalah utama, melainkan sistem dan lingkungan tim.
Kritik Ruud Gullit menjadi pengingat penting bagi Manchester United dan AC Milan untuk tidak terus terjebak dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu. Untuk kembali berjaya, keduanya dituntut beradaptasi dan membangun identitas baru yang relevan dengan perkembangan sepak bola modern.
