ARSENAL: Dari Harapan Quadruple Menuju Tanpa Gelar Lagi Musim Ini

Raj Pur
By
3 Min Read

Harapan tinggi sempat menyelimuti Arsenal di awal musim 2025/2026. Sejumlah media ternama Eropa seperti BBC Sport, Sky Sports, dan ESPN bahkan menempatkan The Gunners sebagai kandidat serius peraih empat gelar sekaligus. Namun, seiring berjalannya musim, narasi itu perlahan berubah menjadi kisah kegagalan kolektif.

Menurut analisis The Guardian, Arsenal memulai musim dengan struktur permainan yang matang dan konsisten. Sentuhan taktik dari Mikel Arteta dianggap sebagai evolusi dari filosofi yang ia bangun sejak beberapa tahun terakhir. Permainan berbasis penguasaan bola, pressing tinggi, dan fleksibilitas posisi membuat mereka sulit dikalahkan di fase awal.

Performa gemilang dari Bukayo Saka, Martin Ødegaard, dan lini belakang yang solid menjadikan Arsenal sempat memuncaki klasemen Premier League. Sky Sports dalam salah satu laporannya menyebut Arsenal sebagai “tim paling seimbang di Inggris” pada periode tersebut.

Namun, seperti dicatat ESPN, titik balik terjadi ketika jadwal padat mulai menggerus kebugaran skuad. Cedera pemain kunci dan rotasi yang kurang efektif membuat performa tim menurun drastis. Arsenal mulai kehilangan poin penting di liga dan tersingkir dari kompetisi piala lebih cepat dari ekspektasi.

Sementara itu, BBC Sport menyoroti aspek mental sebagai faktor krusial. Dalam beberapa pertandingan besar, Arsenal gagal mempertahankan keunggulan dan terlihat kurang tenang di momen-momen penentu. Hal ini memperkuat anggapan bahwa tim ini masih dalam proses menuju level juara sejati.

Kritik juga datang dari berbagai pengamat yang dikutip The Guardian, yang menilai bahwa Arsenal belum memiliki kedalaman skuad sebanding dengan klub-klub elite lain. Ketergantungan pada beberapa pemain inti membuat mereka rentan ketika badai cedera datang.

Meski demikian, tidak semua bernada negatif. ESPN menekankan bahwa Arsenal tetap menunjukkan progres signifikan dibanding musim-musim sebelumnya. Mereka kini konsisten bersaing di papan atas dan kembali menjadi kekuatan yang diperhitungkan di Eropa.

Musim ini mungkin berakhir tanpa trofi bagi Arsenal, tetapi fondasi yang telah dibangun memberi harapan untuk masa depan. Tantangan berikutnya bagi Arteta adalah mengubah status “penantang” menjadi “juara”—sesuatu yang membutuhkan lebih dari sekadar kualitas teknis, tetapi juga mentalitas dan pengalaman.

Dari mimpi quadruple hingga ancaman nirgelar, perjalanan Arsenal musim ini menjadi refleksi keras tentang betapa tipisnya batas antara ambisi dan realitas dalam sepak bola modern.

Share This Article