Badminton Indonesia Matangkan Taktik di Jepang

Hoki Brodin
5 Min Read

storysport.net kali ini beralih dari sepak bola menuju bulu tangkis, ketika tim Indonesia memasuki tahap akhir persiapan Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Sebanyak 20 pemain sudah berada di Jepang dan menjalani pemusatan latihan di Tokyo, termasuk latih tanding dengan NTT East Badminton Club sebelum pertandingan beregu dimulai pada 20 September.

Skuad terdiri dari 10 pemain putra dan 10 putri. PBSI memilih datang lebih awal agar atlet memiliki waktu beradaptasi terhadap lingkungan, ritme aktivitas, serta kondisi di Jepang.

Latih Tanding Jadi Simulasi Penting

Pada hari kedua pemusatan latihan, pemain Indonesia berhadapan dengan atlet NTT East.

Tujuannya bukan mengejar hasil pertandingan, melainkan mendapatkan variasi pola permainan sebelum kompetisi sebenarnya.

Pelatih ganda putra Antonius Budi Ariantho menilai latihan dengan pemain Jepang memberi karakter bola dan pola rally berbeda dibanding latihan internal.

Hal tersebut penting karena pemain pelatnas setiap hari sudah mengenal kebiasaan rekan sendiri.

Bertemu lawan baru memaksa atlet membaca situasi tanpa bekal rutinitas.

Menurut PBSI, sektor ganda putra juga sudah membiasakan lima pemain berlatih dengan kombinasi pasangan berbeda sehingga komposisi dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan laga.

Jepang Dikenal Kuat dalam Rally

Rachel Allessya Rose dan Febi Setianingrum mendapat kesempatan menghadapi ganda putri Jepang dalam latihan tersebut.

Mereka menilai karakter pemain Jepang yang ulet dan kuat secara fisik memberi pengalaman berguna sebelum Asian Games.

Salah satu pasangan yang hadir adalah Hinata Suzuki/Nao Yamakita, yang sudah memiliki pengalaman pada World Tour.

Bagi Rachel/Febi, kondisi tersebut memberi simulasi berkualitas tanpa tekanan hasil resmi.

Mereka juga datang ke Asian Games dengan pengalaman dari Kejuaraan Dunia yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi.

20 Pemain Dibawa ke Aichi-Nagoya

Skuad putra terdiri dari Jonatan Christie, Alwi Farhan, Moh Zaki Ubaidillah, Muhamad Yusuf, Fajar Alfian, Muhammad Shohibul Fikri, Leo Rolly Carnando, Daniel Marthin, Nikolaus Joaquin, dan Amri Syahnawi.

Tim putri membawa Putri Kusuma Wardani, Thalita Ramadhani Wiryawan, Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, Mutiara Ayu Puspitasari, Rachel Allessya Rose, Febi Setianingrum, Febriana Dwipuji Kusuma, Meilysa Trias Puspitasari, Siti Fadia Silva Ramadhanti, dan Nita Violina Marwah.

Jumlah tersebut memberi pelatih beberapa opsi komposisi untuk nomor beregu.

Asian Games memainkan sistem tim terlebih dahulu, sehingga kemampuan mengatur susunan pemain dapat sama pentingnya dengan kualitas individu.

Tunggal Putra Banyak Wajah Baru

Salah satu cerita paling menarik muncul dari sektor tunggal putra.

Tiga dari empat pemain yang dibawa merupakan debutan Asian Games: Alwi Farhan, Moh Zaki Ubaidillah, dan Muhamad Yusuf.

Alwi dan Ubed sudah memiliki pengalaman pada ajang beregu lain seperti SEA Games, Piala Sudirman, dan Piala Thomas.

Namun Asian Games membawa tekanan berbeda karena satu kontingen bertanding di bawah sorotan berbagai cabang olahraga.

Pengalaman Jonatan Christie dapat menjadi penyeimbang bagi generasi yang lebih muda.

Jadwal Dimulai 20 September

Cabang bulu tangkis berlangsung dalam dua fase.

Nomor beregu putra dan putri dimainkan pada 20–24 September. Nomor perorangan menyusul pada 25–29 September.

Format seperti ini menuntut manajemen fisik yang cermat.

Pemain yang tampil pada beregu dapat kembali turun beberapa hari kemudian di nomor individu.

Recovery menjadi penting, terutama untuk sektor yang harus memainkan pertandingan panjang.

PBSI sebelumnya bahkan menarik beberapa pemain dari China Masters agar program menuju Asian Games dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing atlet.

Adaptasi Bukan Sekadar Cuaca

Keberangkatan lebih awal juga memberi kesempatan tim mengatur pola tidur, makan, dan latihan.

Tokyo dan Nagoya tidak memiliki perbedaan waktu besar dengan Indonesia bagian barat, tetapi perubahan lingkungan tetap dapat memengaruhi ritme atlet.

Latihan pertama difokuskan pada pengembalian kondisi dengan intensitas yang dikontrol.

Pendekatan tersebut mengurangi risiko tim terlalu cepat memasuki latihan berat setelah perjalanan.

Baru setelah tubuh lebih siap, program bergerak menuju teknik, taktik, dan sparring.

Target Tinggi, tetapi Persaingan Berat

Bulu tangkis merupakan salah satu cabang yang secara historis sering menjadi sumber medali Indonesia.

Namun persaingan Asia juga merupakan salah satu yang paling keras di dunia.

China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, India, Chinese Taipei, dan Thailand memiliki pemain papan atas pada berbagai sektor.

Karena itu, reputasi tidak otomatis menghasilkan medali.

Undian, kondisi pemain, serta kemampuan menjaga momentum pada pertandingan beregu akan berpengaruh besar.

TC Tokyo Jadi Ujian Terakhir

Pemusatan latihan di Tokyo bukan tempat untuk melakukan perubahan teknis besar.

Waktu yang tersisa terlalu pendek.

Fokus utama justru menyempurnakan detail: pola servis, rotasi, pengembalian bola, pilihan pasangan, recovery, serta komunikasi tim.

Latih tanding melawan atlet Jepang memberikan kesempatan menguji detail tersebut dalam suasana berbeda.

Ketika kompetisi dimulai pada 20 September, fase eksperimen praktis selesai.

Indonesia kemudian harus mengubah seluruh persiapan menjadi hasil di lapangan.

Share This Article