Operator kompetisi Elite Pro Academy (EPA), I.League, mengeluarkan kecaman keras terhadap insiden kekerasan yang terjadi dalam laga EPA Super League U-20 2025/2026. Aksi berbahaya berupa tendangan “kungfu” yang dilakukan salah satu pemain menjadi sorotan serius karena dinilai membahayakan keselamatan pemain lain.
Peristiwa tersebut terjadi dalam pertandingan antara Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang. Dalam laga yang berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Dewa United U-20, situasi memanas hingga terjadi keributan yang melibatkan sejumlah pemain dari kedua tim.
Insiden semakin menjadi perhatian setelah salah satu pemain, yang juga berstatus bagian dari Timnas Indonesia U-20, melakukan tendangan keras yang berpotensi mencederai lawan. Aksi tersebut dinilai tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga mencoreng nilai sportivitas dalam sepak bola usia muda.

Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menyayangkan keras kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa kompetisi EPA seharusnya menjadi fondasi utama pembinaan pemain muda Indonesia, bukan justru diwarnai tindakan kekerasan.
Menurutnya, aspek pembentukan karakter dan sikap fair play merupakan tujuan utama dari penyelenggaraan kompetisi usia muda. Oleh karena itu, seluruh elemen yang terlibat, baik pemain, pelatih, maupun ofisial, wajib menjaga profesionalisme serta menjunjung tinggi nilai sportivitas di lapangan.
I.League juga memastikan tidak akan mentoleransi tindakan yang membahayakan keselamatan pemain. Koordinasi dengan Komite Disiplin PSSI tengah dilakukan untuk memastikan adanya sanksi tegas terhadap pelaku, sebagai bentuk komitmen menjaga integritas kompetisi.
Insiden ini menjadi pengingat penting bahwa EPA U-20 bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga wadah pembinaan generasi masa depan sepak bola Indonesia. Kompetisi ini diharapkan melahirkan pemain-pemain berkualitas yang tidak hanya unggul secara teknik, tetapi juga memiliki karakter dan sikap profesional.
Dengan adanya kejadian ini, diharapkan seluruh pihak dapat melakukan evaluasi menyeluruh agar insiden serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
