Richard Masters Soroti FIFA, Ini 2 Kriteria Kandidat Presiden Baru

Hoki Brodin
8 Min Read

CEO Premier League Ingin Kandidat yang Bisa Satukan Sepak Bola Dunia

storysport.et – CEO Premier League Richard Masters ikut angkat suara terkait masa depan kepemimpinan FIFA. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino, Masters menilai sepak bola dunia membutuhkan sosok baru yang mampu membawa perubahan sekaligus menyatukan berbagai konfederasi.

Pernyataan tersebut muncul menjelang pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret 2027 di Maroko. Saat ini, belum ada kandidat resmi yang maju untuk menantang Infantino. Namun, situasi politik di tubuh FIFA mulai berubah setelah muncul berbagai kritik terhadap kebijakan sang presiden.

Masters bahkan mendorong munculnya kandidat alternatif sebelum batas waktu pencalonan. Menurutnya, sosok tersebut tidak cukup hanya memiliki ambisi untuk menduduki kursi presiden FIFA. Kandidat baru juga harus menawarkan arah kepemimpinan yang berbeda dan mampu menyatukan konfederasi sepak bola dari berbagai wilayah.

Dua Kriteria Kandidat Presiden FIFA Versi Richard Masters

Richard Masters menyoroti dua hal utama yang menurutnya perlu dimiliki kandidat Presiden FIFA berikutnya.

1. Mampu Menyatukan Konfederasi

Kriteria pertama berkaitan dengan kemampuan membangun persatuan. Masters berharap kandidat baru dapat menghadirkan tawaran yang membuat berbagai konfederasi sepak bola kembali memiliki tujuan bersama.

FIFA menaungi organisasi sepak bola dari berbagai kawasan dengan kepentingan yang tidak selalu sama. UEFA mewakili Eropa, AFC menaungi Asia, CONCACAF mengurus kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, sedangkan konfederasi lain memiliki kepentingan masing-masing.

Karena itu, sosok yang ingin menggantikan Infantino harus mampu menjembatani perbedaan tersebut. Masters menginginkan kandidat yang tidak hanya memperoleh dukungan dari satu kawasan, tetapi dapat membangun konsensus secara global.

Kebutuhan tersebut semakin terlihat setelah sejumlah konfederasi menyampaikan keberatan terhadap kebijakan FIFA dalam beberapa waktu terakhir. UEFA, AFC, dan CONCACAF sebelumnya menunjukkan penolakan terhadap rencana komersialisasi hak Piala Dunia yang kontroversial.

Bagi Masters, kondisi tersebut menjadi tanda bahwa FIFA membutuhkan kepemimpinan yang mampu membuka ruang dialog lebih luas.

2. Membawa Reformasi Tata Kelola FIFA

Kriteria kedua berkaitan dengan reformasi. Masters menilai FIFA perlu mengevaluasi kembali struktur kekuasaan dan peran presiden dalam organisasi tersebut.

Menurutnya, persoalan yang muncul belakangan tidak hanya berkaitan dengan satu kebijakan. Perdebatan tersebut juga membuka pembicaraan lebih luas mengenai bagaimana FIFA menjalankan organisasi dan mengambil keputusan.

Masters sebelumnya mengkritik keras rencana FIFA untuk menjual sebagian kepentingan komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Rencana tersebut akhirnya ditinggalkan setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak.

CEO Premier League itu bahkan menilai FIFA telah melakukan kesalahan besar dengan rencana tersebut. Ia berpendapat Piala Dunia seharusnya dikelola untuk kepentingan sepak bola dalam jangka panjang, bukan diperlakukan seperti aset yang dapat dialihkan kepada investor.

Karena itu, Masters melihat momentum tersebut sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kembali tata kelola FIFA.

Tekanan terhadap Gianni Infantino Semakin Besar

Pernyataan Richard Masters tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya tekanan terhadap Gianni Infantino.

Infantino telah memimpin FIFA sejak 2016 dan kembali terpilih pada 2023 untuk periode 2023-2027. Ia sebelumnya berada dalam posisi kuat untuk kembali maju dalam pemilihan berikutnya. Namun, sejumlah keputusan FIFA belakangan memicu perlawanan dari beberapa pihak.

Salah satu pemicunya adalah rencana membentuk entitas komersial baru yang berkaitan dengan hak komersial dan tiket kompetisi FIFA. Proposal tersebut mendapat kritik karena menyangkut masa depan aset komersial Piala Dunia.

Rencana itu kemudian batal. Namun, kontroversi tersebut telanjur memunculkan pertanyaan mengenai cara FIFA mengambil keputusan dan besarnya kekuasaan presiden dalam organisasi.

Tekanan juga muncul dari persoalan masa jabatan Infantino. Kelompok hak asasi FairSquare sebelumnya meminta FIFA mencegah Infantino maju kembali dengan alasan batas maksimal masa jabatan. Infantino sendiri memiliki interpretasi berbeda mengenai periode pertama masa kepemimpinannya.

Situasi tersebut membuat pemilihan Presiden FIFA 2027 berpotensi jauh lebih menarik dibanding perkiraan sebelumnya.

Kandidat Penantang Infantino Mulai Bermunculan

Meskipun belum ada penantang resmi yang benar-benar memastikan pencalonannya, sejumlah nama mulai dikaitkan dengan kursi Presiden FIFA.

Beberapa figur yang muncul dalam pembicaraan antara lain Presiden CONCACAF Victor Montagliani dan Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa. Keduanya memiliki pengalaman panjang dalam organisasi sepak bola internasional dan mempunyai jaringan luas di konfederasi masing-masing.

Nama lain juga muncul dari lingkungan sepak bola Eropa. Namun, hingga saat ini persaingan tersebut masih berada pada tahap pembicaraan dan belum menghasilkan kandidat resmi yang secara terbuka mendaftarkan diri sebagai penantang Infantino.

Kondisi itu membuat seruan Richard Masters menjadi penting. Ia tidak sekadar meminta pergantian figur, tetapi menginginkan kandidat yang memiliki program jelas untuk memperbaiki hubungan antarkonfederasi.

Mengapa Persatuan Menjadi Isu Penting?

FIFA memiliki 200 lebih asosiasi anggota dari seluruh dunia. Setiap kawasan membawa kepentingan dan perspektif berbeda terhadap perkembangan sepak bola.

Eropa memiliki kekuatan besar dalam industri sepak bola, terutama melalui kompetisi klub dan pasar komersial. Di sisi lain, konfederasi lain juga memiliki pengaruh besar dalam pemilihan Presiden FIFA karena setiap asosiasi anggota memiliki suara.

Karena itu, seorang kandidat tidak bisa hanya mengandalkan dukungan dari UEFA. Ia harus membangun hubungan dengan negara-negara dan konfederasi lain agar dapat memenangkan pemilihan.

Situasi ini membuat kriteria pertama yang disampaikan Masters menjadi sangat relevan. Kandidat Presiden FIFA berikutnya harus mampu menjadi figur pemersatu, bukan justru memperlebar perbedaan antarwilayah.

Pemilihan Presiden FIFA 2027 Bisa Menjadi Pertarungan Terbuka

Pemilihan Presiden FIFA akan berlangsung pada 18 Maret 2027 di Maroko. Batas waktu pencalonan dijadwalkan pada 18 November 2026. Artinya, masih terdapat waktu bagi kandidat potensial untuk menentukan sikap dan menggalang dukungan.

Jika hanya ada dua kandidat, persaingan akan berlangsung dengan mekanisme yang berbeda dibandingkan jika terdapat tiga kandidat atau lebih. Kehadiran satu kandidat kuat yang mampu menyatukan kelompok penentang Infantino berpotensi mengubah peta persaingan secara signifikan.

Karena itu, beberapa bulan ke depan akan menjadi periode penting bagi sepak bola dunia. Kandidat yang muncul tidak hanya harus populer, tetapi juga membutuhkan dukungan lintas konfederasi.

Masa Depan FIFA Menjadi Sorotan

Seruan Richard Masters menunjukkan bahwa persoalan FIFA kini tidak hanya berkaitan dengan siapa yang duduk sebagai presiden. Perdebatan yang lebih besar menyangkut bagaimana organisasi tersebut menjalankan kekuasaan dan mengambil keputusan.

Masters menginginkan kandidat yang membawa pendekatan berbeda, mampu menyatukan konfederasi, serta mendorong reformasi tata kelola. Jika sosok seperti itu muncul, pemilihan Presiden FIFA 2027 dapat berubah menjadi salah satu kontestasi paling menarik dalam sejarah sepak bola dunia.

Untuk saat ini, Gianni Infantino masih menjadi figur utama dalam bursa tersebut. Namun, tekanan yang meningkat membuat peluang munculnya penantang semakin terbuka.

Pesan Richard Masters pun cukup jelas: FIFA membutuhkan kandidat baru yang bukan hanya ingin menggantikan presiden lama, tetapi juga menawarkan arah baru bagi sepak bola dunia.

Share This Article